Minggu, 13 Mei 2012

Sifat-Sifat Terpuji (Agama-kelas VII)

Kliping Agama

Tawaduk, Taat,

Qona'ah dan Sabar
Kelas VII D
Disusun oleh:
                                             Aan Fitri Ries Sutrisno                : 1
                                             Agus Prasetiya                              : 4
                                             Canggih Shoffi Imanwardhani  : 7
                                             Cawu Marta Satria                        : 9
                                             Deasy Puspita Sari                       : 11
                                             Diah Cipta Loka                            : 13

SMP Negeri 37
Surabaya
2008-2009
Kliping Agama

Tawaduk, Taat,

Qona'ah dan Sabar








Kelas VII D
Disusun oleh:
                                             Aan Fitri Ries Sutrisno                : 1
                                             Agus Prasetiya                              : 4
                                             Canggih Shoffi Imanwardhani  : 7
                                             Cawu Marta Satria                        : 9
                                             Deasy Puspita Sari                       : 11
                                             Diah Cipta Loka                            : 13

SMP Negeri 37
Surabaya
2008-2009
i
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum wr.wb.

               Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karuniaNya, kami dapat menyelesaikan tugas kliping agama tentang sifat terpuji yaitu “Tawaduk, Taat, Qona’ah dan Sabar” dengan baik.
               Kliping ini disusun agar berguna bagi para pembaca sebagai pedoman kita dalam menerapkan kehidupan sehari-hari. Tersusunnya kliping ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan beberapa pihak, yaitu:
1.    Orang tua, yang telah menyemangati kami dalam mengerjakan tugas kliping ini.
2.    Bu Nur Aini, sebagai guru Agama Islam yang telah memberi gambaran tentang pembuatan kliping ini.
3.    Serta teman-teman dan semua pihak yang telah membantu, sehingga kliping ini bisa selesai sesuai harapan.
Akhirnya dengan semua ini kita semua dapat mengetahui sifat terpuji. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, maka dari itu kami mengharap kritik dan saran dari seluruh pembaca.

Wassalamu’alaikum wr.wb.




Surabaya, November 2008



Penulisaaaaaaaa


ii
Daftar Isi

Judul Dalam…………………………………………………………………………………   i
Kata Pengantar……………………………………………………………………………..    ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………………..    iii
Pendahuluan………………………………………………………………………………...  1
Isi……………………………………………………………………………………………..    2
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………   7























iii
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
               Pada zaman ini banyak orang yang melakukan sesuatu tanpa menghiraukan akibat dari perbuatan tersebut, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Padahal Allah SWT sangat suka orang yang melakukan berdasarkan pertimbangan tertentu sehingga tidak menimbulkan akibat yang buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain.
               Salah satu sifat terpuji yang disukai oleh Allah SWT yaitu Tawaduk, Taat, Sabar dan Qona’ah. Keempat sifat tersebut akan menjadi pedoman kita dalam menghadapi segala macam cobaan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Tujuan
               Pembuatan kliping ini bertujuan agar kita lebih dapat memahami, meneladani dan mambiasakan perilaku Tawaduk, Taat, Sabar dan Qona’ah.

















1

BAB II
Isi
2.1  TAWADUK
               Tawaduk artinya adalah rendah hati. Kerendahan hatinya diwujudkan dalam ucapan, sikap dan tindakan. Bagi orang yang memiliki sifat tawaduk dalam dirinya, berarti tidak ada kesombongan dalam dirinya. Sikap dan tingkah lakunya senantiasa menghargai orang lain.
               Tawaduk adalah salah satu perbuatan yang sangat terpuji. Allah sangat menghargai sikap rendah hati dan sangat membenci sikap sombong, karena sifat sombong hanya akan mendatangkan kebencian dan kerusakan. Seperti Firman Allah SWT dalam surat An Nisa’ ayat 36 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
               Sebaliknya Allah lebih senang kepada orang-orang yang bersikap rendah hati (Tawaduk), sebagaimana anjuran Nabi Muhammad SAW sebagaimana dalam hadist berikut yang artinya: “Iyad bin Hilmar r.a. berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepada saya supaya kalian bertawaduk hingga tidak ada seorang pun yang menganiaya orang lain dan tidak seorang pun menyombongkan diri atas orang lain.”  (H.R. Muslim)
            Ayat Al-Qur’an dan hadist di atas menjelaskan dua hal yang berlawanan, yakni sikap sombong merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT dan kita diperintahkan untuk menghindarinya. Sebaliknya Allah lebih senang kepada perbuatan tawaduk, oleh karenanya hal tersebut sangat baik untuk diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Jika dapat diwujudkan akan mendatangkan kebaikan pada diri sendiri maupun orang lain.
            Tawaduk berkaitan erat dengan suasana hati yang diwujudkan dalam bentuk ucapan, sikap maupun perbuatan. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan  latihan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang dimulai dari diri sendiri kemudian dengan lingkungan baik dengan keluarga, teman maupun orang lain dalam pergaulan yang lebih luas.


2
            Pembiasaan sikap tawaduk dapat dilakukan dengan cara:
a.    Melatih dan menjaga hati untuk senantiasa tenang, bersih dan tidak berperasaan yang buruk.
b.    Membiasakan perilaku baik dan rendah hati serta menghargai orang lain.
c.    Tidak berperilaku sombong.
d.    Membiasakan sikap tenang, wajar, santun dalam menghadapi berbagai masalah, utamanya berkaitan dengan orang lain.
               Hal tersebut penting karena hati yang tenang dan bersih akan membuahkan sikap dan tutur kata yang santun, lembut dan menghargai orang lain, serta tidak sombong. Jika hal tersebut dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari lama-kelamaan akan terbentuk perilaku yang tawaduk.

2.2  Taat
               Taat sering disamakan artinya dengan patuh dan tunduk. Dengan demikian taat artinya adalah patuh dan tunduk terhadap perintah atau larangan seseorang atau peraturan yang berlaku.
               Taat lebih berkaitan dengan sikap dan tindakan seseorang dalam menaati peraturan secara suka rela tanpa ada perasaan terpaksa, sehingga dalam menaati dan melakukan peraturan tersebut didasarkan pada rasa patuh dan tunduk terhadap peraturan yang berlaku.
               Menaati peraturan termasuk akhlak terpuji dan hukumnya wajib, seperti ayat yang tertera pada Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad SAW) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu…..”
               Maksud kutipan surat di atas adalah kita diperintah untuk menjadi orang yang taat dan patuh terhadap aturan, yaitu aturan Allah dan Rasul-Nya dan aturan pemerintah, pemimpin, guru, orangtua, atau aturan apa saja yang berlaku selama aturan tersebut tidak bertentangan dengan aturan agama.
               Kita perlu menaati peraturan agar kehidupan ini dapat berjalan dengan baik, tertib, teratur dan aman. Dengan menjadi orang yang taat terhadap peraturan, secara otomatis kita menjadi orang yang berakhlak mulia dan ikut berpartisipasi menciptakan kehidupan ini menjadi aman, tentram, damai dan sejahtera.
3
         Taat berkaitan erat dengan sikap, perasaan dan kesadaran seseorang dalam menaati peraturan secara suka rela tanpa ada perasaan terpaksa. Menumbuhkan kesadaran bersikap taat perlu pembiasaan.
         Pembiasaan perilaku taat dapat dilakukan dengan cara:
a.    Melatih dan menjaga hati untuk senantiasa menyadari pentingnya menaati peraturan.
b.    Membiasakan berperilaku taat dalam hal-hal yang kecil sekali pun, seperti menyeberang jalan pada tempatnya.
c.    Menghindari kebiasaan taat tata tertib, ketika hanya dilihat oleh orang lain.
d.    Menjadikan kebiasaan taat di lingkungan rumah, sekolah, masyarakat dan di lingkungan yang lebih luas.

2.3  Qona’ah
               Qona’ah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakan serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang puas. Qona’ah bukan berarti masa bodoh dan bermalas-malasan dalam hidup serta tidak mau berusaha untuk meningkatkan kesejateraan hidup. Sebenarnya, orang yang berjiwa Qona’ah selalu giat bekerja dan berusaha sekuat tenaga, tetapi jika usahanya tidak sesuai, ia tetap bersyukur kapada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Abdullah bi Umar berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda: sungguh beruntung orang-orang yang masuk islam, mendapat rezeki secukupnya, dan ia merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.’” (H.R. Muslim)
               Qona’ah seharusnya menjadi sifat dasar bagi setiap Muslim karena sifat tersebut menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputusasaan dan tidak selalu maju dalam keserakahan.
               Qona’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang Muslim.
               Stabilisator artinya seorang Muslim yang memiliki sifat qona’ah akan selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya dan berkecukupan, dan bebas dari keserakahan. Karena pada hakikatnya kekayaaan atau kemiskinan seseorang terletak  pada hati, bukan pada harta yang dimilikinya.
4
               Bila kita perhatikan, banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan. Misalnya, koruptor yang hartanya melimpah-ruah tetapi hatinya dibayangi rasa was-was dan sulit tidur karena perasaannya tidak tenang, takut kejahatannya terbongkar pemerintah. Tetapi sebaliknya, benyak orang yang sepintas seperti kekurangna namun hidupnya tenang penuh gembira. Misalnya, petani yang membawa hasil panen ke pasar. Ia merasa gembira dan puas atas hasil panennya bahkan sebagian ia bagikan kepada para tetangga, rasa puas yang dimiliki oleh petani tersebut membuahkan jiwanya tentram dan tenang.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Dari Abu Hurairah r.,a.: Rasulullah SAW bersabda, ‘ Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda tetapi kekayaan sebenarnya adalh kekayaan hati.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dinamisator artinya kekuatan batin yang mendorong seseorang untuk meraih kemenangan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah SWT.
Qona’ah bersangkut paut dengan sikap hati dan mental. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan sifat qona’ah diperlukan latihan dan kesabaran. Pada tingkat permulaan mungkin merupakan sesuatu yang memberatkan hati, namun jika sifat qona’ah sudah membudaya dalam diri dan merupakan baguan dari sikap hidup seseorang, kebahagiaan dunia yang akan dirasakannya.

2.4 Sabar
               sabar bisa diartikan tahan uji, tahan menderita, tabah, ulet, tekun, tidak mudah putus asa, maksimal dalam berusaha untuk menyelesaikan masalah guna meraih keberhasilan. Sabar tidak sama dengan pasrah. Perbedaannya adalah dalam melakukan usaha. Pasrah adalah sifat menyerah terhadap keadaan tanpa melakukan usaha.
               Banyak contoh yang bisa kita tiru dari orang-orang yang memilki sifat sabar, yakni bagaimana seseorang meraih keberhasilannya, bagaimana orang bertahan dalam menghadapi kesulitannya, bagaimana orang jika terjerumus dalam kesesatan.
               Kebehasilan tidak datang dari langit, semua harus diusahakan penuh kesabaran, keuletan dan ketekunan secara terus-menerus. Allah SWT menyuruh kapada kita menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong dalam kehidupan ini. Seperti Firman Allah

5
dalam surat Al-Baqoroh ayat 153 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Orang yang mampu menjadikan sabar dan sholat dalam kehidupannya akan dicintai dan ditolongn Allah SWT. Orang sabar adalah kekasih Allah.
Dalam penerapannya, sabar dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
a.    Sabar dalam berbuat atau menjalankan perintah Allah SWT
b.    Sabar dalam menderita
c.    Sabar dalam menahan hawa nafsu






















6
Daftar Pustaka

Guru, Abdi, Tim. 2006. Ayo Belajar Agama Islam 1. Erlangga, Jakarta




























7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar